Keris Jalak Tuah atau khasiat nya sangat banyak dan mempunyai cerita sendiri yang serat makna filosofis tinggi bagi kehidupan bermasyarakat dan berkeluarga. Oleh karena itu di waktu ini keris jalak tuah nya akan dibahas secara terperinci dan tentuk khasiat serta filosofi dan angsarnya

Jenis Jenis Keris Jalak

Dalam dunia perkerisan, sangat banyak dhapur (bentuk keris) yang elok, bagus. Selain memancarkan pamor yang wingit. Tapi ada satu dhapur yang populer, yakni dhapur jalak. Inilah keris legendaris milik masyarakat Jawa secara umum, banyak dimiliki oleh lurah dan pejabat desa. Penanda pertama keris dhapur jalak adalah bilahnya yang lurus dengan ukuran melebar. Terlihat sangat bersahaja, namun di balik semua yang sederhana itu, tersimpan wibawa yang tak teraba. Bagi pecinta keris, dhapur jalak, menjadi favorit karena sebagai simbol kerezekian. Disamping itu, keris jalak pun mempunyai jenis jenis yang lain, mulai dari jalak ngore, jalak sangu tumpeng, jalak tilam sari, jalan nyucup madu dan lainnya.
Menurut Beta P Yuwana, praktisi keris dari Kebumen, “…Dhapur jalak sangatlah merakyat. Jenis keris ini yang umum dijumpai ada sekitar 12. Mulai dari Jalak Buda hingga Jalak Ngore. Ini adalah keris kesayangan orang Jawa, seperti sifat burung jalak yang serba menyenangkan, penghilang lelah, serta burung yang dikenal pekerja keras dalam urusan mencari nafkah untuk keluarganya”
Contoh yang bisa ditemui masyarakat Jawa, tambah Beta, “Salah satunya keris berdhapur Jalak Sangu Tumpeng. Bilah keris sederhana ini, banyak dijumpai pada masyarakat Jawa karena merupakan simbol ajaran hidup dalam mencari nafkah. Juga, menekankan pentingnya kejujuran, hubungan sosial, dan ketakwaan kepada Tuhan.”

Keris Jalak Ber Tuah Di Keraton Jogjakarta

Di Keraton Jogjakarta, dhapur jalak yang sangat kondang karena sakral adalah Kanjeng Kiai Ageng Kopek. Ini dia keris paling keramat yang memiliki dhapur Jalak Sangu Tumpeng. Selain Kanjeng Kiai Ageng Kopek, di Keraton Mataram Ngayogyokarto Hadiningrat, juga ada Kanjeng Kiai Danuwara yang berdhapur Jalak Sangu Tumpeng.
Masyarakat Jogjakarta sangat paham, Kanjeng Kiai Ageng Kopek merupakan pusaka utama keraton. Duwung agung itu selalu menyertai Ngarso Dalem Sri Sultan. Awalnya, keris milik Kanjeng Sunan Kalijaga, diterima oleh Pangeran Mangkubumi saat naik tahta sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono I, setelah perjanjian Giyanti yang membelah Mataram menjadi Surakarta dan Jogjakarta pada tahun 1755.
Keris Kanjeng Kiai Ageng Kopek yang berdhapur Jalak Sangu Tumpeng, selalu menjadi pusaka yang menyertai setiap Sultan Jogja sejak Kanjeng Sinuwun Sri Sultan Hamengku Buwono pertama hingga ke sepuluh saat ini. Sebab, keris ini memang hanya boleh diturunkan kepada raja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *